PALEMBANG — Nama KH Hendra Zainuddin Al Qodiri, M.Pd.I. tidak asing dalam dunia pesantren dan Nahdlatul Ulama di Sumatera Selatan. Sosok yang dikenal dengan panggilan Ustadz Hendra ini dipercaya memimpin Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan masa khidmat 2025–2030.
Ia terpilih dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) XXIII NU Sumatera Selatan yang berlangsung di Palembang pada akhir Februari 2025. Dalam kepengurusan tersebut, KH Hendra Zainuddin Al Qodiri dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah, sementara KH Mal’an Abdullah sebagai Rais Syuriyah. Kepengurusan PWNU Sumsel kemudian resmi dilantik pada 1 Juli 2025 di Griya Agung Palembang.
Lahir dan Tumbuh di Palembang
KH Hendra Zainuddin Al Qodiri lahir di Palembang, 4 Desember 1973. Ia merupakan putra kedua dari pasangan Drs. Zainuddin Thalib dan Hj. Rukmini, dari keluarga yang dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan dan kehidupan keagamaan.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 100 Palembang, kemudian melanjutkan ke MTs Negeri 2 Palembang. Setelah itu, ia memperdalam pendidikan agama di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, dan menyelesaikannya pada 1994.
Sepulang dari Madura, KH Hendra melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Raden Fatah Palembang, yang kini menjadi UIN Raden Fatah Palembang. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ushuluddin pada 2000 dan kemudian menempuh pendidikan S2 dalam bidang Manajemen Pendidikan Islam pada 2004.
Perjalanan pendidikan tersebut mempertemukan dua dunia yang kemudian menjadi bagian penting dalam kiprahnya: tradisi pesantren dan pendidikan modern.
Membangun Pesantren dan Pendidikan
Salah satu bagian penting dari perjalanan KH Hendra adalah kiprahnya dalam bidang pendidikan pesantren.
Pada usia sekitar 22 tahun, ia mendirikan Pondok Pesantren Inayatullah di Desa Gasing, Kabupaten Banyuasin. Kiprahnya kemudian berlanjut dengan mendirikan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Aulia Cendekia Palembang pada 2007.
Pesantren Aulia Cendekia berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki perhatian pada pendidikan Al-Qur’an dan pembentukan karakter generasi muda. Sumber pemberitaan menyebut pesantren tersebut telah menaungi lebih dari 1.000 santri, baik mukim maupun nonmukim, dengan jenjang pendidikan formal dari SD, SMP hingga SMA.
Pengalaman panjang di dunia pesantren tersebut menjadi salah satu modal KH Hendra ketika kemudian dipercaya memimpin organisasi NU di tingkat wilayah.
Kiprah di Nahdlatul Ulama
Sebelum memimpin PWNU Sumsel, KH Hendra Zainuddin Al Qodiri juga aktif dalam struktur NU di tingkat Kota Palembang. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua PCNU Kota Palembang. Setelah terpilih memimpin PWNU Sumsel, posisi tersebut kemudian dilanjutkan oleh KH Abdul Malik Syafe’i.
Pengalaman tersebut memberikan bekal organisatoris sekaligus pemahaman mengenai persoalan NU di tingkat akar rumput.
Pada 2025, amanah kepemimpinan kemudian meningkat ke tingkat provinsi. Sebagai Ketua PWNU Sumsel masa khidmat 2025–2030, KH Hendra membawa semangat “NU Sumsel Satu Khidmat”.
Semangat tersebut diarahkan pada penguatan dakwah, pendidikan, sosial kemasyarakatan, serta peran NU dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
NU yang Membumi
Dalam menjalankan kepemimpinan PWNU Sumsel, KH Hendra menekankan pentingnya NU hadir secara nyata di tengah masyarakat.
Usai pelantikan PWNU Sumsel, ia menyampaikan bahwa NU Sumsel ingin melakukan khidmah yang menyeluruh dan merangkul berbagai elemen. Salah satu orientasi yang disampaikan adalah mengimplementasikan semangat “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” melalui program yang menyentuh masyarakat bawah.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai agenda konsolidasi dan kerja sama dengan sejumlah pihak.
PWNU Sumsel, misalnya, menjajaki sinergi dengan PT Pelindo Regional II Palembang dalam bidang pemberdayaan ekonomi dan ekonomi syariah. KH Hendra menyampaikan pentingnya membangun kerja sama yang dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
Di tingkat daerah, ia juga aktif dalam penguatan infrastruktur organisasi NU. Salah satunya dengan menghadiri peninjauan lokasi calon kantor PCNU Prabumulih dan memimpin doa bersama sebagai bagian dari ikhtiar pembangunan pusat kegiatan NU di daerah tersebut.
Pendidikan, Dakwah dan Pemberdayaan Umat
Jika melihat perjalanan kiprahnya, terdapat tiga bidang yang cukup menonjol dalam aktivitas KH Hendra Zainuddin Al Qodiri: pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Pengalaman mengelola pesantren memberikan basis kuat dalam bidang pendidikan. Sementara keterlibatannya dalam NU memperluas ruang pengabdiannya pada dakwah dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Dalam kepemimpinan PWNU Sumsel, orientasi tersebut kemudian diperluas melalui kerja sama dengan pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat.
Hal ini sejalan dengan harapannya agar NU tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga mampu hadir di berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Menjaga Tradisi dan Menjawab Zaman
Kepemimpinan NU di Sumatera Selatan menghadapi tantangan yang cukup kompleks. NU memiliki basis jamaah yang besar, jaringan pesantren yang luas, serta tradisi keilmuan yang kuat. Pada saat yang sama, masyarakat terus berubah akibat perkembangan teknologi, ekonomi, pendidikan dan media digital.
Dalam konteks tersebut, pengalaman KH Hendra di pesantren dan pendidikan menjadi salah satu modal untuk mempertemukan tradisi keislaman dengan kebutuhan masyarakat kontemporer.
Bagi NU, mempertahankan tradisi bukan berarti menutup diri dari perubahan. Tradisi keilmuan dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah justru perlu menjadi landasan untuk menghadapi perkembangan zaman.
Memimpin NU Sumsel
PWNU Sumsel masa khidmat 2025–2030 kini berada di bawah kepemimpinan KH Hendra Zainuddin Al Qodiri bersama jajaran pengurus yang memiliki latar belakang beragam. Pelantikan yang berlangsung di Griya Agung pada 1 Juli 2025 menjadi momentum awal konsolidasi kepengurusan baru.
Dalam momentum tersebut, KH Hendra meminta doa dan restu para masyayikh, tokoh masyarakat, serta seluruh warga Nahdliyin agar dapat menjalankan amanah dengan tanggung jawab, keikhlasan dan istiqamah.
Harapan yang dibawa cukup besar: membangun NU yang semakin solid, membumi, inklusif dan mampu memberikan manfaat nyata bagi umat dan masyarakat Sumatera Selatan.
Dengan pengalaman sebagai santri, pengasuh pesantren, pendidik, dai dan organisatoris NU, KH Hendra Zainuddin Al Qodiri kini menghadapi amanah yang lebih luas.
Bukan hanya mengurus organisasi, tetapi juga bagaimana menjadikan NU sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang terus hadir dan memberikan manfaat.
Dari Pesantren untuk Umat
Perjalanan KH Hendra Zainuddin Al Qodiri memperlihatkan sebuah lintasan pengabdian yang berangkat dari pendidikan, pesantren dan dakwah, kemudian berkembang ke ruang organisasi dan pelayanan masyarakat.
Dari pesantren ia belajar tentang ilmu dan tradisi. Dari dakwah ia belajar tentang pengabdian. Dari NU ia mendapatkan ruang yang lebih luas untuk berkhidmat kepada umat dan bangsa.
Kini, sebagai Ketua PWNU Sumatera Selatan 2025–2030, tantangannya adalah bagaimana seluruh pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang nyata.
NU yang kuat secara tradisi, maju dalam pendidikan, mandiri secara ekonomi, luas dalam dakwah, solid dalam organisasi, dan nyata manfaatnya bagi masyarakat.
Itulah antara lain wajah pengabdian yang sedang dibangun di bawah kepemimpinan KH Hendra Zainuddin Al Qodiri di Bumi Sriwijaya.
“NU bukan hanya organisasi, tetapi jalan perjuangan membangun peradaban.” — KH Hendra Zainuddin Al Qodiri
Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.
