PALEMBANG — Perubahan zaman telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan belajar agama. Jika dahulu masyarakat harus datang ke masjid, pesantren atau majelis taklim untuk mendengarkan pengajian, kini ilmu keislaman dapat diakses hanya melalui telepon genggam.
Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi dakwah Islam. Karena itu, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) perlu mendorong lahirnya dai yang tidak hanya memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga mampu memahami karakter masyarakat digital.
LDNU sendiri memiliki mandat dalam pengembangan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam konteks kekinian, tugas tersebut membutuhkan dai yang mampu menggabungkan kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, kemampuan komunikasi, serta kecakapan memanfaatkan teknologi.
Bukan Sekadar Dai yang Bisa Viral
Era digital memang membuat seorang dai dapat menjangkau jamaah jauh lebih luas. Namun, ukuran keberhasilan dakwah tidak boleh berhenti pada jumlah pengikut, tayangan, komentar, atau kemampuan sebuah video menjadi viral.
Dai yang ideal bukanlah dai yang paling viral, melainkan dai yang paling mampu menghadirkan ilmu, keteladanan dan kemaslahatan.
Popularitas dapat menjadi sarana, tetapi bukan tujuan.
Seorang dai NU harus tetap memiliki fondasi keilmuan yang kuat. Ia harus memahami Al-Qur’an, hadis, fikih, akidah, akhlak, sejarah Islam dan khazanah keilmuan pesantren. Lebih dari itu, ia harus mampu menyampaikan ilmu dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Dakwah digital tidak boleh membuat kedalaman ilmu dikorbankan demi mengejar algoritma.
1. Berilmu dan Memiliki Integritas Keilmuan
Dai ideal harus berangkat dari ilmu.
Di tengah derasnya informasi keagamaan di media sosial, masyarakat membutuhkan dai yang mampu membedakan antara ilmu, opini, potongan informasi, dan klaim keagamaan yang tidak memiliki dasar memadai.
Dai NU idealnya memiliki tradisi keilmuan yang kuat, memiliki guru, memahami sumber rujukan, dan tidak gegabah dalam memberikan jawaban keagamaan.
Di sinilah tradisi pesantren memiliki modal yang sangat penting. Khazanah kitab kuning dan tradisi keilmuan ulama tetap relevan untuk menjawab persoalan zaman, sepanjang disertai kemampuan membaca konteks kehidupan masyarakat.
2. Berdakwah dengan Hikmah dan Akhlak
Dai digital juga harus memahami bahwa cara menyampaikan dakwah sama pentingnya dengan materi yang disampaikan.
Al-Qur’an mengajarkan dakwah dengan hikmah, mau’izhah hasanah dan dialog dengan cara yang terbaik. Prinsip tersebut semakin penting di ruang digital yang penuh perbedaan pandangan dan sangat mudah memunculkan konflik.
Karena itu, dai ideal bukanlah dai yang gemar mempermalukan orang lain, mudah menghakimi, atau menjadikan perbedaan sebagai bahan permusuhan.
Dai harus mampu tegas dalam prinsip, tetapi santun dalam penyampaian.
Ketua LD PBNU KH Abdulloh Syamsul Arifin juga menekankan bahwa dakwah harus berbasis hikmah, bijaksana, cerdas membaca situasi, serta tidak dilakukan dengan cara memaksa.
3. Menguasai Bahasa Generasi Digital
Dai hari ini tidak cukup hanya pandai berbicara di atas mimbar. Ia juga harus memahami bahasa komunikasi digital.
Masyarakat, terutama generasi muda, terbiasa dengan video pendek, podcast, infografis, YouTube, Instagram dan TikTok. Karena itu, pesan dakwah harus mampu dikemas dalam berbagai format tanpa kehilangan substansi.
Satu tema kajian dapat dikembangkan menjadi:
- Video ceramah panjang;
- Video pendek 1 menit;
- Podcast;
- Infografis;
- Kutipan hikmah;
- Artikel;
- Tanya jawab;
- Konten edukasi;
- Siaran langsung.
LDNU sendiri telah mendorong pemanfaatan media sosial dan website untuk menghadirkan konten positif bagi generasi yang akrab dengan gawai.
4. Tidak Anti-Teknologi
Dai ideal tidak boleh melihat teknologi sebagai ancaman semata. Teknologi adalah alat. Dakwah adalah tujuan.
Karena itu, dai perlu memahami media sosial, teknik produksi video sederhana, fotografi, desain, podcast, live streaming, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Penguasaan teknologi tidak berarti seorang dai harus menjadi influencer profesional. Yang terpenting adalah mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas manfaat dakwah.
Pesantren bahkan memiliki kekayaan materi dakwah yang sangat besar. Pengajian, kitab, tradisi, kehidupan santri, kisah ulama dan berbagai aktivitas pesantren merupakan sumber konten yang tidak pernah habis.
5. Mampu Berdialog, Bukan Hanya Berbicara
Karakter masyarakat digital berbeda dengan jamaah pengajian konvensional.
Di ruang digital, masyarakat dapat langsung bertanya, menyanggah, mengkritik bahkan memberikan perspektif berbeda. Karena itu, dai ideal harus mampu berdialog dan mendengarkan, bukan hanya berbicara.
Dai harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, tidak mudah tersulut emosi, dan mampu menghadapi pertanyaan kritis dengan tenang. Dakwah digital bukan komunikasi satu arah. Ia harus berkembang menjadi ruang interaksi dan pembentukan komunitas.
6. Paham Isu Kekinian
Dai tidak boleh hanya berbicara tentang persoalan masa lalu tanpa mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat hari ini.
Dai perlu memahami isu seperti:
AI, media sosial, keluarga, pendidikan, kesehatan mental, ekonomi digital, pinjaman online, perjudian online, pornografi, hoaks, perundungan digital, perubahan budaya, lingkungan, hingga persoalan kebangsaan.
Masyarakat membutuhkan jawaban agama yang relevan dengan realitas kehidupan mereka. Dakwah yang baik bukan hanya menjelaskan apa hukumnya, tetapi juga membantu masyarakat memahami bagaimana nilai Islam diterapkan dalam kehidupan nyata.
7. Melek Literasi Digital dan Anti-Hoaks
Dai juga harus menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan informasi. Jangan sampai seorang dai justru menjadi penyebar berita yang belum terverifikasi, hadis palsu, kutipan ulama yang tidak jelas sumbernya, atau informasi provokatif.
Dai harus menjadi teladan dalam tabayyun.
Sebelum menyebarkan sebuah informasi, seorang dai perlu memastikan sumber, konteks dan kebenarannya.
Di tengah banjir informasi keagamaan, kemampuan melakukan verifikasi justru merupakan bagian dari tanggung jawab dakwah.
8. Memiliki Keteladanan di Dunia Nyata
Ada satu hal yang tidak boleh hilang dalam transformasi dakwah digital: keteladanan. Sehebat apa pun konten yang dibuat, masyarakat tetap membutuhkan sosok yang dapat dipercaya.
Dai harus memiliki akhlak yang baik, rendah hati, menjaga ucapan, menghormati ulama, menghargai perbedaan, dan hadir memberikan manfaat di tengah masyarakat. Jangan sampai seorang dai sangat santun di depan kamera tetapi kasar dalam kehidupan nyata.
Dakwah digital harus menjadi perpanjangan dari akhlak, bukan pengganti akhlak.
9. Memiliki Wawasan Kebangsaan
Dai NU juga harus mampu menempatkan dakwah dalam konteks kehidupan kebangsaan. Dakwah harus memperkuat persaudaraan, menjaga kerukunan, menghindari provokasi dan memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat.
Tradisi NU memiliki pengalaman panjang dalam mengintegrasikan kehidupan keagamaan dengan kehidupan sosial dan kebangsaan. Karena itu, dai NU idealnya mampu menyampaikan Islam dengan pendekatan yang menyejukkan dan membangun kemaslahatan.
10. Mampu Berkolaborasi
Dai masa kini tidak harus bekerja sendirian. Dakwah digital membutuhkan kolaborasi antara ulama, dai, santri, akademisi, content creator, videografer, desainer, jurnalis dan anak-anak muda yang menguasai teknologi.
Seorang kiai mungkin memiliki kedalaman ilmu, tetapi belum tentu menguasai editing video. Sebaliknya, anak muda mungkin sangat menguasai teknologi, tetapi membutuhkan bimbingan keilmuan.
Keduanya dapat saling melengkapi.
Karena itu, LDNU perlu membangun ekosistem dakwah digital yang mempertemukan kekuatan keilmuan pesantren dengan kreativitas generasi muda.
Dai Masa Depan: Ulama yang Hadir di Dunia Digital
Pada akhirnya, dai ideal era digital bukanlah dai yang meninggalkan tradisi demi teknologi.
Sebaliknya, ia adalah dai yang membawa kedalaman tradisi keilmuan Islam ke dalam ruang kehidupan modern.
Ia tetap membaca kitab, tetapi juga memahami media sosial. Ia tetap berguru kepada ulama, tetapi juga mampu berdialog dengan generasi Z. Ia tetap berdakwah di masjid dan pesantren, tetapi juga hadir di YouTube, Instagram, TikTok, podcast dan berbagai ruang digital lainnya. Ia tidak mengejar viralitas, tetapi memahami bagaimana algoritma bekerja. Ia tidak mengejar popularitas, tetapi mengejar kemanfaatan.
Dan yang paling penting, ia tidak menjadikan teknologi sebagai pusat dakwah, melainkan menjadikan teknologi sebagai alat untuk menyampaikan ilmu, hikmah dan keteladanan.
Sejalan dengan perkembangan dakwah NU, ruang digital harus dipandang sebagai ladang dakwah baru, sementara prinsip dakwah tetap berakar pada ilmu, hikmah, akhlak dan kemaslahatan.
Standar Dai LDNU di Era Digital
Jika dirumuskan secara sederhana, dai ideal LDNU di era digital setidaknya memiliki sepuluh karakter:
- BERILMU — kuat dalam keilmuan Islam dan memiliki sumber rujukan yang jelas.
- BERAKHLAK — santun, rendah hati dan menjadi teladan.
- ASWAJA — memahami dan mengamalkan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
- MODERAT — tidak mudah menghakimi dan mampu menghargai perbedaan.
- KOMUNIKATIF — mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dipahami.
- ADAPTIF — mampu membaca perubahan zaman.
- MELEK DIGITAL — memahami media sosial dan teknologi.
- LITERAT — mampu melakukan tabayyun dan tidak mudah menyebarkan informasi palsu.
- KOLABORATIF — mampu bekerja bersama ulama, santri, akademisi, kreator dan berbagai elemen masyarakat.
- KONSISTEN — menjadikan dakwah sebagai jalan khidmah, bukan sekadar mengejar popularitas.
Dengan karakter tersebut, LDNU dapat mencetak dai yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menjawab persoalan zaman.
Sebab tantangan dakwah hari ini bukan lagi sekadar bagaimana membuat masyarakat datang ke majelis.
Tantangannya adalah bagaimana pesan Islam hadir di tengah masyarakat ketika mereka sedang membuka telepon genggam, berselancar di media sosial, mencari jawaban di mesin pencari, menonton video, menggunakan AI, dan berinteraksi di ruang digital.
Dai yang ideal adalah dai yang tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan, tetapi mampu melangkah jauh mengikuti perkembangan zaman. Ilmunya mendalam. Akhlaknya mulia. Wawasannya luas. Komunikasinya santun. Teknologinya dikuasai. Dakwahnya menyejukkan. Kehadirannya membawa maslahat.
Itulah wajah dai yang dibutuhkan NU untuk menjawab tantangan dakwah di era digital. (GD/LDNU)
