PW-LDNU Sumsel
Dakwah

Kemarau Makin Panjang, Saatnya Kembali Mendekat kepada Allah melalui Shalat Istisqa

Ketika Langit Tak Lagi Menurunkan Hujan, Manusia Diingatkan untuk Menengadahkan Tangan

Musim kemarau yang berkepanjangan mulai menghadirkan berbagai persoalan bagi masyarakat. Tanah yang dahulu subur kini mengering, sumber-sumber air semakin sulit ditemukan, sawah dan ladang terancam gagal panen, sementara para peternak kesulitan mendapatkan rumput untuk memenuhi kebutuhan ternaknya.

Di sejumlah wilayah, kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Asap dan polusi udara kemudian menjadi persoalan baru yang berdampak terhadap kehidupan dan kesehatan masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, manusia kembali dihadapkan pada satu kenyataan sederhana: betapa lemahnya manusia ketika alam kehilangan air.

Air yang selama ini dianggap biasa ternyata menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika hujan tak kunjung turun. Sungai menyusut, tanah merekah, tanaman mengering, ternak kesulitan mendapatkan pakan, dan masyarakat mulai merasakan kesulitan memenuhi kebutuhan air.

Kondisi tersebut semestinya tidak hanya mendorong manusia mencari solusi secara lahiriah, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali mendekat kepada Allah SWT.

Ketika Ikhtiar Manusia Bertemu dengan Ketundukan kepada Allah

Islam mengajarkan bahwa manusia harus melakukan ikhtiar sekaligus menyandarkan hasilnya kepada Allah SWT. Menghadapi kekeringan, berbagai upaya teknis dan kemanusiaan tentu tetap harus dilakukan. Namun bagi seorang muslim, ada ikhtiar batin yang juga tidak boleh ditinggalkan: doa, istighfar, taubat, sedekah, dan memperbanyak amal kebaikan.

Salah satu bentuk ikhtiar tersebut adalah Shalat Istisqa, yaitu salat sunah untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa Shalat Istisqa merupakan bentuk penghambaan dan ikhtiar batin umat Islam ketika menghadapi kemarau panjang dan kekeringan. Dalam pelaksanaannya, umat dianjurkan memperbanyak taubat, istighfar dan doa.

Pada awal September 2026, pelaksanaan Shalat Istisqa kembali dilakukan di sejumlah daerah yang menghadapi kekeringan. Kemenag Majene, misalnya, menggelar Salat Istisqa pada 1 September 2026 sebagai ikhtiar bersama memohon hujan yang membawa rahmat dan keberkahan. Di Barito Selatan, kondisi kemarau dan kabut asap juga mendorong masyarakat menggelar Salat Istisqa.

Bukan Sekadar Meminta Hujan

Shalat Istisqa sesungguhnya tidak semata-mata tentang meminta air dari langit.

Lebih jauh, ia adalah momentum untuk melakukan muhasabah—menengok kembali hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

Ketika bumi terasa semakin kering, mungkin manusia perlu bertanya: sudah sejauh mana kita mensyukuri nikmat air? Sudahkah kita menjaga lingkungan? Sudahkah kita menghindari keserakahan dan perusakan alam? Sudahkah kita memperbanyak istighfar dan memohon ampun atas segala kekhilafan?

Sebab itu, khutbah Shalat Istisqa dianjurkan mengajak umat untuk bertaubat, memohon ampun, memperbanyak istighfar, dan memohon agar Allah memberikan hujan yang bermanfaat bagi manusia dan seluruh makhluk.

Anak Krakatau Menambah Kewaspadaan

Di tengah persoalan kekeringan, masyarakat juga dihadapkan pada aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau yang perlu terus dipantau oleh masyarakat dan otoritas terkait.

Kondisi alam tersebut mengingatkan bahwa manusia hidup di tengah lingkungan yang dinamis dan penuh risiko. Karena itu, selain mendekatkan diri kepada Allah, masyarakat tetap harus mengikuti informasi resmi kebencanaan, menjaga kesehatan, menggunakan perlindungan yang diperlukan ketika kualitas udara terganggu, serta mengikuti arahan petugas.

Bencana dan fenomena alam tidak semestinya hanya dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia juga dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam. Manusia adalah bagian dari ciptaan Allah yang memiliki kewajiban menjaga dan merawat bumi.

Saatnya Menengadahkan Tangan

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk melihat langit tanpa benar-benar menengadahkan tangan.

Kita menunggu hujan, tetapi lupa memohon kepada Yang Menurunkan hujan.

Kita mencari air ke berbagai tempat, tetapi terkadang lupa bahwa air adalah nikmat Allah yang tidak pernah mampu kita ciptakan sendiri.

Maka ketika kemarau semakin panjang, ketika sawah mengering, ketika ternak kesulitan mendapatkan makanan, ketika kebakaran terjadi dan udara menjadi tidak sehat, sudah saatnya umat kembali berkumpul dalam doa.

Mari laksanakan Salat Istisqa.

Bukan karena manusia telah menyerah terhadap ikhtiar, tetapi karena manusia menyadari keterbatasannya.

Kita berusaha dengan tangan, tetapi memohon dengan hati.

Kita menjaga lingkungan, membantu masyarakat yang terdampak, mencegah kebakaran, menghemat air dan mengikuti petunjuk para ahli. Pada saat yang sama, kita bersimpuh di hadapan Allah SWT, memohon ampunan, rahmat dan pertolongan-Nya.

Ya Allah, turunkanlah hujan-Mu.

Bukan hujan yang membawa bencana, tetapi hujan yang menyuburkan tanah, mengisi sumber air, menghidupkan kembali sawah dan ladang, menyediakan rumput bagi ternak, membersihkan udara, meredakan kebakaran dan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.

Sebab pada akhirnya, ketika manusia telah melakukan segala ikhtiar yang mampu dilakukan, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: langit adalah milik Allah, hujan adalah kehendak-Nya, dan manusia hanyalah hamba yang senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya. (GD/LDNU)

Artikel Lainnya

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem

LDNU Sumsel

Iftitah Safari Dakwah, LDNU Prabumulih Gelar Pengajian Akbar Maulid Nabi

LDNU Sumsel

WTO Says Global Trade Rebounds Strongly, Sees 3.6% Growth

LDNU Sumsel