PALEMBANG — Silaturahmi antara dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, terus dibangun sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat persatuan umat dan kontribusi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Semangat tersebut tercermin dalam pertemuan silaturahmi antara Ketua LDNU Sumatera Selatan, KH Abdullah A. Basyaiban, Lc., M.Sos., dengan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan, Buya Ridwan Hayatuddin, S.H., M.H.
Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membangun komunikasi, mempererat persaudaraan, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara dua organisasi besar yang selama ini memiliki kontribusi besar dalam kehidupan keagamaan, pendidikan, sosial, dan kebangsaan.
Silaturahmi NU dan Muhammadiyah bukan sekedar pertemuan antarpimpinan organisasi. Lebih dari itu, perjumpaan tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan tradisi dan corak gerakan tidak harus menjadi penghalang untuk berjalan bersama dalam kepentingan yang lebih besar.
NU dan Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam membangun bangsa. Keduanya telah melahirkan ribuan lembaga pendidikan, rumah sakit, lembaga sosial, serta berbagai gerakan pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah Indonesia.
Karena itu, sinergi kedua organisasi di Sumatera Selatan dinilai memiliki potensi besar untuk menghadirkan program-program bersama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
KH Abdullah A. Basyaiban, Lc., M.Sos., menekankan pentingnya membangun komunikasi dan silaturahmi lintas organisasi sebagai bagian dari upaya menjaga ukhuwah serta memperkuat peran umat dalam kehidupan kebangsaan.
Sementara itu, Buya Ridwan Hayatuddin menyambut baik semangat silaturahmi dan kolaborasi tersebut. Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara NU dan Muhammadiyah, khususnya di Sumatera Selatan.
Kolaborasi NU dan Muhammadiyah pada akhirnya bukan tentang siapa yang lebih besar atau lebih benar, tetapi bagaimana dua kekuatan besar umat Islam dapat mengambil peran bersama dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, persoalan pendidikan, ekonomi umat, generasi muda, sosial kemasyarakatan, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan membutuhkan kerja bersama.
NU dan Muhammadiyah boleh berbeda dalam tradisi dan metode gerakan, tetapi memiliki titik temu yang sama: Islam, kemanusiaan, persatuan, dan Indonesia.
Silaturahmi antara KH Abdullah A. Basyaiban dan Buya Ridwan Hayatuddin menjadi langkah positif untuk merawat persaudaraan dan membangun kolaborasi yang lebih konkret.
Dari Sumatera Selatan, semangat itu diharapkan terus tumbuh: berbeda dalam khazanah, bersama dalam khidmah, bersatu untuk Indonesia. (GD/LDNU)
