Di tengah semakin berkembangnya berbagai lembaga dan badan otonom di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), ada satu lembaga yang sesungguhnya memiliki posisi sangat strategis, tetapi kiprahnya belum selalu terlihat menonjol di tengah masyarakat: Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU).
Padahal, jika melihat mandat dan kebutuhan NU hari ini, LDNU semestinya menjadi salah satu lembaga terdepan. Sebab, dakwah merupakan denyut utama gerakan NU. Melalui dakwah, nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah diperkenalkan, dirawat, dan diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat.
Namun, dalam praktiknya, gaung LDNU sering kali kalah terdengar dibandingkan lembaga atau badan lain seperti Muslimat NU, Fatayat NU, maupun berbagai program sosial NU-Care. Bukan karena dakwah tidak penting, tetapi justru karena kerja-kerja dakwah LDNU belum sepenuhnya dikemas menjadi gerakan yang terstruktur, masif, terukur, dan mudah dirasakan masyarakat.
Bukan Tidak Bekerja, tetapi Belum Menjadi Gerakan
Persoalannya mungkin bukan pada ada atau tidak adanya kegiatan. Di banyak daerah, para dai NU tetap aktif berdakwah. Pengajian berlangsung, majelis taklim berjalan, masjid dan pesantren hidup, dan para ulama serta kiai terus membimbing masyarakat.
Tetapi aktivitas tersebut belum selalu terkonsolidasi sebagai sebuah gerakan dakwah LDNU.
Di sinilah letak tantangan besarnya.
LDNU seharusnya tidak hanya menjadi lembaga yang mengadakan pengajian atau tabligh akbar sesekali. LDNU perlu hadir sebagai lembaga yang memikirkan secara serius ke mana arah dakwah NU, siapa yang menjadi sasaran dakwah, siapa para dai yang digerakkan, materi apa yang disampaikan, media apa yang digunakan, dan bagaimana mengukur dampaknya.
Dengan kata lain, LDNU harus bergerak dari sekadar penyelenggara kegiatan menjadi arsitek gerakan dakwah NU.
Dakwah NU Tidak Boleh Hanya Mengandalkan Mimbar
Dunia telah berubah. Masyarakat hari ini mendapatkan pengetahuan agama bukan hanya dari masjid, pesantren, majelis taklim, atau mimbar Jumat. Mereka mendapatkannya dari YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, podcast, WhatsApp, dan berbagai platform digital lainnya.
Generasi muda bahkan bisa mendapatkan ribuan ceramah hanya dengan mengetik satu kata di mesin pencarian. Jika LDNU tidak hadir di ruang tersebut, maka ruang dakwah akan diisi oleh siapa saja.
Karena itu, LDNU perlu memiliki strategi dakwah yang lebih modern tanpa kehilangan karakter ke-NU-an. Dakwah tidak harus selalu dikemas dalam bentuk ceramah panjang. Bisa berupa video pendek, podcast, infografis, tulisan populer, konsultasi keagamaan, pendidikan keluarga, dakwah ekonomi, dakwah lingkungan, hingga pendampingan masyarakat.
Substansi dakwahnya tetap kuat, tetapi cara menyampaikannya harus mengikuti perkembangan zaman.
LDNU Harus Menjadi Rumah Para Dai NU
Salah satu pekerjaan penting LDNU adalah membangun ekosistem para dai. NU memiliki begitu banyak kiai, ustaz, mubalig, alumni pesantren, akademisi, dan anak muda yang memiliki kemampuan berdakwah. Sayangnya, mereka belum tentu terhubung dalam sebuah jaringan dakwah yang kuat.
LDNU dapat mengambil posisi sebagai rumah besar para dai NU.
Bukan hanya mendata dai, tetapi juga melakukan pemetaan kemampuan, memberikan pelatihan, meningkatkan kapasitas komunikasi, membekali literasi digital, menyusun materi dakwah, serta membuka ruang kolaborasi antarpendakwah.
Dai NU tidak cukup hanya pandai berbicara. Mereka juga perlu memahami psikologi masyarakat, perkembangan teknologi, problem sosial, ekonomi keluarga, isu generasi muda, pendidikan, kesehatan sosial, hingga tantangan kehidupan beragama di tengah perubahan zaman.
Dengan demikian, LDNU bukan sekadar lembaga yang mencari dai ketika akan mengadakan acara. LDNU harus menjadi lembaga yang membangun dan menyiapkan dai secara berkelanjutan.
Mengapa Kiprah Muslimat dan Fatayat Lebih Terlihat?
Ada pelajaran penting yang dapat dipetik dari berbagai organisasi di lingkungan NU yang kiprahnya relatif mudah dikenali masyarakat. Muslimat NU, misalnya, memiliki jaringan yang kuat hingga akar rumput. Fatayat NU juga dikenal luas melalui berbagai program yang menyentuh perempuan dan generasi muda.
Sementara berbagai program sosial NU-Care lebih mudah mendapatkan perhatian karena masyarakat dapat langsung melihat bentuk manfaatnya.
LDNU perlu belajar dari kekuatan tersebut tanpa harus kehilangan identitasnya. Dakwah juga harus mempunyai wajah yang nyata. Masyarakat harus bisa mengatakan, “Ini program LDNU.”
Bukan hanya karena ada spanduk bertuliskan LDNU, tetapi karena memang ada program yang konsisten, memiliki manfaat, dan terus hadir.
Misalnya, LDNU dapat mengembangkan program Dai Masuk Desa, Dai Muda Digital, Sekolah Dai NU, Konsultasi Keagamaan, Dakwah Keluarga, Dakwah Anak Muda, Rumah Tahsin, Dakwah Ekonomi Umat, hingga Gerakan Masjid Ramah.
Program-program tersebut kemudian dijalankan secara berkelanjutan, bukan hanya sebagai kegiatan seremonial.
Saatnya LDNU Memiliki Peta Jalan Dakwah
Sudah waktunya LDNU memiliki roadmap dakwah NU yang jelas. Setiap tingkatan kepengurusan perlu mengetahui target dan prioritasnya.
Di tingkat pusat, LDNU dapat menyusun kebijakan, standar, kurikulum, pelatihan, dan platform dakwah. Di tingkat wilayah, LDNU mengembangkan program sesuai karakteristik daerah. Di tingkat cabang dan majelis wakil cabang, LDNU menjadi ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Dengan pola tersebut, dakwah NU tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada koordinasi dari pusat sampai ranting. Ada database dai. Ada kalender dakwah. Ada materi yang dikembangkan bersama. Ada pelatihan. Ada evaluasi.
Dan yang paling penting, ada ukuran keberhasilan.
Jangan Sampai LDNU Hanya Ada di Struktur
Tantangan terbesar organisasi bukanlah memiliki struktur. Struktur hampir selalu bisa dibuat. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana struktur tersebut berubah menjadi gerakan.
LDNU jangan sampai hanya tercatat dalam susunan kepengurusan, memiliki kantor dan agenda rapat, tetapi masyarakat tidak merasakan keberadaannya. Lembaga dakwah harus berada di tengah masyarakat.
Ketika ada anak muda yang kehilangan arah, LDNU harus hadir. Ketika keluarga menghadapi persoalan keagamaan, LDNU harus hadir. Ketika masyarakat membutuhkan pendampingan keagamaan, LDNU harus hadir. Ketika muncul persoalan intoleransi, ekstremisme, hoaks keagamaan, atau konflik sosial, LDNU harus hadir memberikan pencerahan.
Ketika dakwah pindah ke ruang digital, LDNU juga harus hadir.
Mengembalikan LDNU sebagai “Dapur Dakwah” NU
Ke depan, LDNU idealnya tidak perlu berlomba menjadi lembaga yang paling banyak membuat acara. Yang lebih penting adalah menjadi lembaga yang paling kuat menyiapkan konsep, manusia, materi, jaringan, dan strategi dakwah NU.
LDNU dapat menjadi semacam “dapur dakwah” NU.
Di dapur itulah gagasan dakwah dirumuskan. Para dai disiapkan. Materi disusun. Strategi dikembangkan. Teknologi dimanfaatkan. Program diuji. Kemudian gerakan dakwah didistribusikan ke seluruh jaringan NU.
Jika konsep ini berjalan, maka LDNU tidak harus selalu tampil di depan.
Justru keberhasilannya terlihat ketika ribuan dai NU bergerak, masjid-masjid hidup, majelis taklim berkembang, anak muda mendapatkan ruang dakwah, masyarakat mendapatkan pendampingan, dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah semakin kuat di tengah masyarakat.
Momentum untuk Berbenah
LDNU sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar: NU memiliki jaringan yang luas, pesantren yang jumlahnya besar, para ulama, dai, ustaz, masjid, majelis taklim, serta basis jamaah yang tersebar hingga pelosok.
Yang dibutuhkan adalah konsolidasi dan keberanian untuk melakukan pembaruan dan terobosan dalam mengelola LDNU.
Sebab jika NU adalah rumah besar, maka LDNU semestinya menjadi salah satu ruang utama tempat denyut dakwah rumah besar itu dirancang, digerakkan, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sudah waktunya LDNU kembali menjadi wajah dakwah NU. (SN)
Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.
