PW-LDNU Sumsel
LDNU Sumsel

LDNU Sumsel Bangun Harokah Dakwah: Da’i Tak Lagi Pasif, Harus Proaktif

PALEMBANG — Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumatera Selatan memasuki babak baru kepengurusan masa khidmat 2026–2031 dengan tekad menghidupkan kembali harokah dakwah An-Nahdliyah secara lebih aktif, sistematis, terprogram, dan terukur.

Sebagai lembaga yang berada dalam struktur Nahdlatul Ulama, LDNU memiliki posisi strategis sebagai corong dakwah NU. Karena itu, keberadaan LDNU tidak semestinya hanya terlihat ketika ada undangan pengajian atau kegiatan keagamaan yang membutuhkan penceramah.

LDNU Sumsel ingin mengubah pola tersebut. Dai NU tidak boleh hanya menunggu undangan. LDNU tidak boleh pasif menunggu instruksi. Dakwah harus bergerak mencari ruang, membaca kebutuhan umat, dan menghadirkan program yang nyata.

Paradigma inilah yang hendak dibangun dalam kepengurusan LDNU Sumsel masa khidmat 2026–2031.

Dari Menunggu Menjadi Menjemput Dakwah

Selama ini, aktivitas dakwah di banyak tempat sering kali berjalan secara sporadis. Para dai tampil ketika mendapatkan undangan, sementara kegiatan dakwah belum sepenuhnya dikembangkan sebagai sebuah gerakan yang memiliki target, agenda, kalender kegiatan, dan evaluasi yang jelas.

LDNU Sumsel memandang pola tersebut perlu diperbaiki. Dakwah tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan seremonial. Dakwah harus menjadi gerakan yang dirancang, dijalankan, dievaluasi dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Karena itu, LDNU Sumsel mendorong agar para dai dan pengurus LDNU di berbagai tingkatan mulai membangun inisiatif sendiri.

Jika tidak ada yang mengundang, maka LDNU harus membuat kegiatan. Jika belum ada forum dakwah, maka LDNU harus menciptakan forum. Jika ada persoalan umat, maka dai NU harus hadir memberikan pencerahan.

Dengan semangat tersebut, LDNU diharapkan tidak sekadar menjadi lembaga pelengkap struktur organisasi, tetapi benar-benar menjadi mesin penggerak dakwah NU di tengah masyarakat.

Dakwah Harus Sistematis, Terjadwal dan Terukur

Penguatan harokah dakwah tidak berarti memperbanyak kegiatan tanpa arah. Justru LDNU Sumsel ingin membangun sistem dakwah yang memiliki perencanaan dan target yang jelas. Setiap program diharapkan memiliki sasaran, jadwal, penanggung jawab, indikator keberhasilan serta evaluasi.

Dengan demikian, kegiatan dakwah tidak berhenti pada pertanyaan: “Hari ini ada pengajian atau tidak?”

Tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih strategis: “Apa kebutuhan dakwah masyarakat? Siapa yang harus kita bina? Wilayah mana yang belum tersentuh? Berapa dai yang harus disiapkan? Apa target yang hendak dicapai dalam satu tahun? Dan apa perubahan yang dihasilkan dari program tersebut?”

Cara berpikir semacam ini diperlukan agar dakwah NU dapat berkembang dari kegiatan yang bersifat insidental menjadi gerakan dakwah yang terorganisasi.

Menghidupkan Dakwah An-Nahdliyah di Semua Level

LDNU Sumsel juga mendorong agar gerakan dakwah tidak hanya terpusat di tingkat provinsi. Harokah dakwah harus bergerak secara berjenjang dan terintegrasi mulai dari PW LDNU, LDNU kabupaten/kota, hingga tingkat kecamatan dan komunitas dakwah NU.

Masing-masing wilayah dapat mengembangkan program sesuai karakteristik masyarakatnya, tetapi tetap berada dalam garis besar arah dakwah An-Nahdliyah.

Dengan pola tersebut, LDNU Sumsel dapat berfungsi sebagai pengarah, penghubung, fasilitator dan penggerak, sementara LDNU di daerah menjadi ujung tombak yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Sinergi juga perlu dibangun dengan PCNU, badan otonom, pesantren, masjid, majelis taklim, lembaga pendidikan, komunitas pemuda, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Dai NU Harus Menguasai Mimbar dan Media Digital

Tantangan dakwah hari ini juga tidak lagi terbatas pada mimbar masjid dan majelis taklim. Masyarakat, khususnya generasi muda, menghabiskan banyak waktu di ruang digital. Informasi keagamaan beredar sangat cepat melalui media sosial, YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, podcast, dan berbagai platform lainnya.

Karena itu, LDNU Sumsel melihat kebutuhan untuk melahirkan dai yang mampu berdakwah di dua medan sekaligus: offline dan online.

Dai NU harus tetap mampu mengisi mimbar, masjid, majelis taklim dan forum masyarakat. Namun pada saat yang sama, mereka juga harus mampu menghadirkan konten dakwah yang berkualitas di ruang digital. Ruang digital tidak boleh dibiarkan kosong.

Jika dai NU tidak hadir di dalamnya, maka masyarakat, terutama generasi muda, akan memperoleh rujukan keagamaan dari sumber-sumber yang belum tentu memiliki kapasitas keilmuan dan sanad pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, kaderisasi dai menjadi salah satu agenda penting LDNU Sumsel.

Bukan Sekadar Banyak Dai, tetapi Dai yang Bergerak

LDNU Sumsel tidak hanya membutuhkan banyak orang yang memiliki kemampuan berceramah. Yang dibutuhkan adalah dai yang memiliki kapasitas keilmuan, akhlak, kemampuan komunikasi, wawasan kebangsaan, pemahaman terhadap tradisi An-Nahdliyah, sekaligus memiliki keberanian untuk bergerak.

Dai tidak boleh hanya menjadi “pengisi acara”. Dai harus menjadi problem solver umat. Ia harus mampu membaca persoalan masyarakat, mendampingi jamaah, membangun majelis taklim, melakukan pembinaan keagamaan, menguatkan akidah Aswaja, memberikan edukasi kepada generasi muda, serta menghadirkan dakwah yang menyejukkan dan mencerahkan.

Karena itu, kaderisasi dai harus diarahkan tidak hanya pada kemampuan berbicara di depan publik, tetapi juga pada penguatan keilmuan, metodologi dakwah, kemampuan digital, manajemen kegiatan, komunikasi publik, dan kemampuan membaca persoalan sosial.

Dakwah sebagai Corong NU

Sebagai lembaga dakwah NU, LDNU memiliki tugas strategis dalam menyampaikan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah kepada masyarakat. LDNU harus menjadi salah satu wajah NU yang paling sering bersentuhan langsung dengan jamaah.

Ketika masyarakat membutuhkan penguatan keagamaan, dai NU harus hadir. Ketika generasi muda membutuhkan ruang belajar agama, LDNU harus hadir. Ketika masyarakat membutuhkan penjelasan yang sejuk terhadap persoalan keagamaan, LDNU harus hadir. Dan ketika ruang digital dipenuhi berbagai narasi keagamaan, dai-dai NU juga harus hadir di sana.

Dengan demikian, LDNU tidak hanya menjadi “corong” dalam pengertian menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi ujung tombak pelayanan dakwah NU kepada umat.

Lima Tahun Harus Menghasilkan Gerakan

Masa khidmat 2026–2031 merupakan waktu yang cukup panjang untuk membangun sistem dakwah yang kuat. Karena itu, LDNU Sumsel tidak ingin lima tahun kepengurusan hanya diisi dengan rutinitas dan kegiatan yang berjalan tanpa arah besar.

Lima tahun harus menghasilkan jejak dan sistem dakwah yang dapat dirasakan.

Harus ada semakin banyak dai yang lahir dan bergerak. Harus semakin banyak wilayah yang mendapatkan pembinaan. Harus semakin banyak majelis dan komunitas dakwah yang terkoneksi. Harus semakin banyak konten dakwah An-Nahdliyah yang hadir di ruang digital.

Dan yang tidak kalah penting, harus terbangun database, jaringan, kalender dakwah, program kaderisasi serta sistem evaluasi yang memungkinkan gerakan tersebut terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepengurusan.

Pada akhirnya, keberhasilan LDNU tidak seharusnya diukur dari seberapa banyak rapat yang dilakukan atau seberapa banyak spanduk kegiatan yang terpasang. Ukuran keberhasilan LDNU adalah seberapa jauh dakwah NU benar-benar bergerak dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Inilah harokah yang hendak dibangun LDNU Sumatera Selatan: menghidupkan dakwah An-Nahdliyah agar semakin aktif, efektif dan hadir di tengah umat—di masjid, majelis taklim, pesantren, masyarakat, hingga ruang digital. (GD/LDNU)

Artikel Lainnya

Poultry, Egg Industry Responds To Consumer-driven Challenges

LDNU Sumsel

Menuju Hari H Muktamar ke-35 NU dan Ujian Memasuki Abad Kedua

LDNU Sumsel

Australian Food & Beverage Industry Not Prepared For Crises

LDNU Sumsel