PW-LDNU Sumsel
AswajaSeputar NU

Mengenal Akidah Aswaja An-Nahdliyah: Jalan Keagamaan Pegangan NU

Istilah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sangat akrab di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Namun, tidak sedikit masyarakat yang mengucapkan Aswaja tanpa benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan Aswaja, bagaimana prinsip akidahnya, dan mengapa Aswaja menjadi identitas penting dalam kehidupan keagamaan warga NU.

Padahal, memahami Aswaja bukan sekadar memahami sebuah istilah. Ia berkaitan dengan cara memahami akidah, syariat, ibadah, akhlak, tradisi keilmuan, hingga bagaimana seorang Muslim menyikapi perbedaan.

Dalam konteks NU, pemahaman tersebut sering disebut sebagai Aswaja An-Nahdliyah, yakni manhaj keagamaan yang menjadi pijakan warga Nahdlatul Ulama.

Apa Itu Ahlussunnah wal Jamaah?

Secara sederhana, Ahlussunnah wal Jamaah berarti orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan mengikuti jalan jamaah kaum Muslimin.

Istilah ini terdiri dari tiga kata:

  • Ahl berarti pengikut atau orang yang mengikuti.
  • As-Sunnah berarti jalan, tuntunan dan ajaran Rasulullah SAW.
  • Sedangkan Al-Jamaah menunjuk pada kebersamaan dan jalan mayoritas umat Islam yang berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah serta tradisi keilmuan Islam yang diwariskan para ulama.

Dengan demikian, Aswaja bukan sekadar nama kelompok. Aswaja adalah manhaj atau metode dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan mengikuti penjelasan dan warisan keilmuan para ulama.

Di sinilah pentingnya memahami Aswaja secara utuh. Aswaja tidak cukup hanya didefinisikan sebagai “mengikuti sunnah”. Sebab semua kelompok Islam tentu mengklaim mengikuti sunnah.

Pertanyaan pentingnya adalah: Bagaimana sunnah itu dipahami? Siapa yang menjelaskan? Bagaimana hukum digali dari Al-Qur’an dan hadis? Dan bagaimana umat menjaga agar pemahaman agama tidak dilakukan secara serampangan?

Di sinilah tradisi keilmuan Aswaja memiliki posisi penting.

Aswaja dalam Tradisi Nahdlatul Ulama

Dalam tradisi NU, Aswaja memiliki karakteristik keilmuan yang jelas. Dalam bidang akidah, NU mengikuti manhaj Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

Dalam bidang fikih, NU mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih mu’tabar, yaitu:

  • Imam Abu Hanifah;
  • Imam Malik;
  • Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i;
  • Imam Ahmad bin Hanbal.

Sementara dalam bidang tasawuf dan akhlak, tradisi NU banyak merujuk kepada ulama besar seperti Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

Maka, ketika masyarakat mendengar istilah Aswaja An-Nahdliyah, secara sederhana dapat dipahami sebagai tradisi keislaman yang berusaha memadukan: Akidah yang benar, fikih yang mengikuti otoritas mazhab, dan tasawuf yang membentuk akhlak. Ketiganya tidak dipertentangkan.

Akidah membangun keyakinan. Fikih mengatur amal. Tasawuf membentuk hati dan akhlak.

Apa Akidah Aswaja An-Nahdliyah?

Akidah adalah perkara yang berkaitan dengan keyakinan dasar seorang Muslim. Pokoknya adalah iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar.

Dalam tradisi Asy’ari-Maturidi yang dianut NU, akidah Islam dijelaskan dengan pendekatan argumentasi naqli dan aqli.

Naqli bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Aqli menggunakan kemampuan akal yang sehat untuk memahami dan menguatkan kebenaran ajaran tersebut.

Namun akal tidak ditempatkan sebagai penguasa wahyu. Akal digunakan sebagai instrumen untuk memahami dalil, bukan untuk membatalkan wahyu yang sahih. Karena itu, tradisi keilmuan Aswaja berusaha menghindari dua sikap ekstrem terlalu mengedepankan akal hingga mengabaikan wahyu, dan terlalu tekstual tanpa memperhatikan kaidah keilmuan dalam memahami nash.

Allah Maha Esa dan Tidak Menyerupai Makhluk

Salah satu prinsip fundamental akidah Aswaja adalah tauhid. Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah.

Allah berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ , اللَّهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ , وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
(QS. Al-Ikhlas: 1–4)

Karena Allah berbeda dengan seluruh makhluk, Aswaja sangat menekankan prinsip tanzih, yaitu menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini menjadi prinsip penting dalam memahami sifat-sifat Allah.

Allah ada, tetapi keberadaan-Nya tidak seperti keberadaan makhluk. Allah mengetahui, tetapi pengetahuan-Nya tidak seperti pengetahuan manusia. Allah mendengar, tetapi pendengaran-Nya tidak seperti pendengaran makhluk.

Dengan demikian, Aswaja menjaga dua hal sekaligus mengimani apa yang datang dari wahyu dan menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk.

Mengapa NU Mengikuti Mazhab?

Pertanyaan ini juga sering muncul. Bukankah kita memiliki Al-Qur’an dan hadis?

Jawabannya: benar, sumber utama ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah.

Namun memahami Al-Qur’an dan hadis tidak cukup hanya dengan membaca terjemahan. Diperlukan ilmu bahasa Arab, ushul fikih, ilmu hadis, nasikh-mansukh, memahami konteks dalil, cara mengompromikan dalil yang tampak berbeda, serta berbagai perangkat keilmuan lainnya.

Para imam mazhab telah mengembangkan metodologi yang sangat mendalam untuk memahami sumber-sumber syariat. Karena itu, mengikuti mazhab bukan berarti meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah. Justru mazhab adalah salah satu jalan ilmiah untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam tradisi NU, warga diberi ruang mengikuti empat mazhab fikih yang mu’tabar, dengan praktik yang secara historis sangat kuat berpegang pada mazhab Syafi’i.

Aswaja Tidak Mengajarkan Fanatisme Buta

Mengikuti mazhab bukan berarti menganggap hanya satu mazhab yang benar dan semua lainnya salah. Para ulama NU menghormati khazanah empat mazhab. Perbedaan fikih merupakan bagian dari kekayaan intelektual Islam selama masih berada dalam wilayah ikhtilaf yang memiliki dasar dan metodologi keilmuan.

Karena itu, persoalan qunut, jumlah rakaat tarawih, bacaan tertentu dalam shalat, tawassul, ziarah kubur dan berbagai persoalan furu’iyah tidak semestinya menjadi alasan untuk saling mengkafirkan, membid’ahkan secara serampangan, apalagi memutus ukhuwah.

Berbeda dalam masalah cabang tidak berarti berbeda dalam pokok keimanan. Inilah salah satu karakter penting tradisi Aswaja.

Tasawuf: Ilmu Membersihkan Hati

Aswaja An-Nahdliyah juga tidak hanya berbicara mengenai akidah dan fikih. Ada dimensi yang sangat penting, yaitu tasawuf dan akhlak.

Sebab seseorang bisa saja memiliki banyak ilmu agama, tetapi jika ilmunya tidak melahirkan tawadhu, kejujuran, kesabaran, kasih sayang dan takut kepada Allah, maka ada sesuatu yang belum selesai dalam perjalanan keagamaannya.

Karena itu, tradisi NU banyak merujuk kepada ulama seperti Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali dalam pembinaan akhlak dan spiritualitas.

Intinya sederhana: Islam bukan hanya benar dalam keyakinan dan benar dalam ibadah, tetapi juga harus baik dalam akhlak.

Aswaja Adalah Jalan Moderat

Salah satu karakter yang sering dilekatkan pada Aswaja adalah tawassuth, yaitu mengambil jalan tengah dan tidak berlebihan. Selain itu dikenal pula prinsip:

  • Tawassuth — moderat dan tidak ekstrem.
  • Tawazun — seimbang.
  • I’tidal — tegak dan adil.
  • Tasamuh — toleran terhadap perbedaan yang dibenarkan.

Tradisi Aswaja berusaha menghindari sikap berlebihan dalam beragama. Tidak mudah mengkafirkan. Tidak mudah menyesatkan. Tidak mudah membid’ahkan tanpa memahami persoalan secara utuh. Tetapi moderat juga bukan berarti semua ajaran dianggap sama. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan akidah.

Sikap moderat tetap memiliki prinsip dan batas.

Aswaja Bukan Sekadar Label

Inilah hal yang penting dipahami oleh warga NU. Mengaku “saya Aswaja” tidak otomatis menjadikan seseorang benar-benar memahami dan mengamalkan manhaj Aswaja. Aswaja harus terlihat dalam cara berpikir dan perilaku.

Kalau mengaku Aswaja tetapi mudah menghina ulama, gemar memfitnah, menyebarkan berita tanpa tabayyun, suka mengkafirkan sesama Muslim, atau menjadikan perbedaan fikih sebagai alasan permusuhan, maka perlu dipertanyakan sejauh mana nilai Aswaja telah meresap dalam dirinya.

Aswaja seharusnya tidak hanya menjadi identitas di kartu anggota, tetapi menjadi akhlak dalam kehidupan.

Mengapa Generasi Muda Perlu Memahami Aswaja?

Di era digital, anak-anak muda mendapatkan informasi agama dari berbagai sumber. Dalam satu layar ponsel, mereka dapat menemukan ribuan ceramah, potongan hadis, fatwa, perdebatan dan berbagai pandangan keagamaan. Masalahnya, tidak semua informasi tersebut memiliki dasar keilmuan yang kuat.

Karena itu, generasi muda NU harus dibekali pemahaman Aswaja yang memadai. Mereka harus mengenal Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga harus mengenal ulama, sanad keilmuan, metodologi fikih, akidah Asy’ari-Maturidi, tradisi tasawuf, serta sejarah keilmuan Islam.

Jangan sampai generasi muda mengenal Islam hanya dari potongan video berdurasi satu menit. Agama yang dalam tidak mungkin dipahami hanya dengan potongan-potongan informasi. Diperlukan guru, kitab, sanad, metodologi dan proses belajar yang panjang.

Aswaja sebagai Identitas Keagamaan NU

Pada akhirnya, Aswaja An-Nahdliyah merupakan salah satu fondasi penting yang membentuk karakter keagamaan Nahdlatul Ulama. Ia bukan agama baru. Bukan mazhab kelima. Dan bukan pula ajaran yang berdiri di luar Islam.

Aswaja adalah tradisi keilmuan Islam yang berusaha menjaga ajaran Al-Qur’an dan Sunnah melalui metodologi para ulama yang terpercaya.

Dalam konteks NU, manhaj tersebut tercermin dalam:

  • Akidah: mengikuti tradisi Asy’ariyah dan Maturidiyah.
  • Fikih: mengikuti mazhab-mazhab fikih mu’tabar, khususnya tradisi Syafi’iyah yang kuat di kalangan NU.
  • Tasawuf: mengikuti jalan tasawuf yang selaras dengan syariat, dengan rujukan ulama seperti Imam al-Junaid dan Imam al-Ghazali.
  • Akhlak: membangun sikap tawadhu, santun, adil, toleran, cinta kepada ulama, dan menjaga ukhuwah.

Maka memahami Aswaja sesungguhnya adalah memahami bagaimana NU menjalankan Islam melalui tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama. Dan bagi warga NU, memahami Aswaja bukan sekadar untuk menjawab pertanyaan “Saya NU atau bukan?”

Jauh lebih penting dari itu: Apakah kita sudah memahami ajaran Aswaja? Apakah kita mengamalkannya? Dan apakah akhlak kita sudah mencerminkan nilai-nilai Aswaja?

Sebab pada akhirnya, Aswaja bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dipahami, diyakini, diamalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (GD/LDNU)

Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.

Artikel Lainnya

Ketua PW-LDNU Sumsel KH. Abdullah Asad Basyaiban Berangkat ke Muktamar Jombang

LDNU Sumsel

‘Unnerved’: These 5 Big Wall Street Players Are Predicting a Downturn

LDNU Sumsel

Surging Stock Market Powers US Wealth to $96.2 trillion

LDNU Sumsel