TAMBAKBERAS, JOMBANG — Ketua dan Sekretaris Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumatera Selatan menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) Super Asparagus yang digelar di kawasan Tambakberas, Jombang. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat silaturahmi dan jejaring para gawagis dari berbagai penjuru Nusantara.
Mewakili gawagis Sumatera Selatan, hadir KH. Abdullah Asad Basyaiban, Lc., yang juga menjabat sebagai Ketua PW LDNU Sumatera Selatan, serta Gus Damas Alhasy, S.S., yang merupakan Sekretaris PW LDNU Sumatera Selatan.
Silatnas Asparagus kali ini berlangsung berbarengan dengan acara Muktamar ke-35 NU dan bertempat di kawasan Tambakberas, salah satu kawasan pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pendidikan dan perjuangan Nahdlatul Ulama.
Kegiatan tersebut menjadi semakin istimewa dengan hadirnya lebih dari 1000 gawagis dari seluruh penjuru Nusantara. Mereka datang dengan latar belakang pesantren yang beragam, membawa pengalaman dan pemikiran masing-masing, namun dipertemukan dalam semangat persaudaraan dan silaturahmi.
Silatnas tersebut juga mendapat sambutan dari Gus Wahab selaku tuan rumah. Kehadiran ratusan gawagis menjadikan pertemuan tersebut bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan ruang untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta bertukar gagasan mengenai berbagai persoalan pesantren dan masyarakat.
Asparagus sendiri terbentuk pada 2008. Pada awalnya, komunitas ini lahir dari kegiatan sederhana berupa kumpul-kumpul dan ngopi bersama. Seiring berjalannya waktu, pertemuan tersebut mulai diisi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan hingga berkembang menjadi sebuah wadah silaturahmi para gawagis.
Misi utama Asparagus adalah memunculkan aura pesantren yang dikelola para gawagis untuk menjadi gerakan yang memiliki dampak baik bagi pesantren maupun masyarakat.
Menariknya, para gawagis yang berkumpul dalam Asparagus tidak harus berasal dari model pondok pesantren yang sama. Mereka juga dapat memiliki pilihan politik yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan.
Justru, keberagaman latar belakang menjadi kekuatan untuk saling belajar. Setiap gawagis memiliki pengalaman, tradisi, tantangan, dan cara pandang yang dapat dibagikan kepada gawagis lainnya.
Para gawagis yang merupakan putra kiai atau pengasuh pondok pesantren pada hakikatnya adalah bagian dari generasi penerus para kiai. Karena itu, keberadaan wadah seperti Asparagus memiliki arti penting dalam membangun komunikasi dan jejaring antargenerasi penerus pesantren.
Menurut KH. Abdullah Asad Basyaiban, silaturahmi gawagis melalui kegiatan seperti Silatnas Super perlu terus dilestarikan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wahana penting untuk mengenal antargawagis dari berbagai daerah.
“Silaturahmi gawagis melalui acara Silatnas Super ini perlu terus dilestarikan sebagai wahana untuk mengenal antargawagis,” demikian semangat yang disampaikannya.
Senada dengan hal tersebut, Gus Damas Alhasy berharap kegiatan silaturahmi seperti ini dapat terus dilakukan secara berkesinambungan. Baginya, silaturahmi tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kesempatan untuk bertemu, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan pikiran.
“Silaturahmi seperti ini diharapkan terus dilakukan, bukan sekadar bertemu tetapi juga bertukar pengalaman dan pikiran,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.
Kehadiran Ketua dan Sekretaris LDNU Sumsel dalam Silatnas Asparagus menjadi bagian dari semangat untuk terus memperkuat hubungan antargawagis. Dari Sumatera Selatan, semangat persaudaraan tersebut bertemu dengan para gawagis dari berbagai wilayah Indonesia dalam satu ruang kebersamaan.
Silatnas di Tambakberas juga menunjukkan bahwa tradisi pesantren memiliki kekuatan besar dalam menyatukan generasi penerusnya. Perbedaan model pesantren, pengalaman, maupun pilihan politik tidak harus menjadi sekat dalam membangun persaudaraan.
Asparagus pada akhirnya menunjukkan bahwa sebuah gerakan besar tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia bisa berawal dari hal yang sangat sederhana: duduk bersama, berbincang, dan menikmati secangkir kopi.
Dari obrolan sederhana itu tumbuh kepedulian. Dari kepedulian lahir silaturahmi. Dan dari silaturahmi, terbuka peluang untuk membangun gerakan yang lebih luas.
Para gawagis sebagai generasi penerus para kiai memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai pesantren. Mereka tidak hanya mewarisi nama besar dan tradisi keilmuan para pendahulunya, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut agar tetap relevan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Di tengah beragamnya model pesantren dan perbedaan pilihan politik, Asparagus menghadirkan pesan sederhana namun kuat: persaudaraan dan silaturahmi dapat menjadi ruang bersama untuk merawat tradisi, bertukar gagasan, dan melahirkan kemanfaatan.
Dari Sumatera Selatan hingga berbagai penjuru Nusantara, semangat itu menjadi pengingat bahwa masa depan pesantren tidak hanya dibangun di ruang-ruang pengajian, tetapi juga melalui jejaring persaudaraan para penerusnya.
Asparagus pun terus membawa spirit tersebut—dari secangkir kopi, menuju silaturahmi; dari silaturahmi, menuju gagasan; dan dari gagasan, menuju gerakan yang diharapkan mampu memberikan manfaat bagi pesantren dan masyarakat. (LDNU)
